Kamis, 24 September 2009

Inilah Gog Magog/Ya’juj & Ma’juj yang sebenarnya!!!

Kerajaan Khazars lenyap dari peta dunia beberapa abad yang lalu. Dewasa ini banyak orang yang tidak pernah mendengar mengenai keberadaannya, namun pada waktu itu Kerajaan Khazars [Khazaria] merupakan kekuatan sangat penting, tentu saja melakukan perluasan kerajaannya dengan penaklukan. Kekuatan Khazaria waktu itu diperhitungkan oleh kedua negara adidaya tetangganya. Kearah Selatan dan Barat Khazaria berdiri Kekaisaran Byzantium yang maju dengan peradaban Timur Kristen Ortodoks. Kesebelah Tenggara, kerajaan Khazar berbatasan dengan Kekaisaran Islam Kekhalifahan Arab yang sedang mengembangkan kekuasaannya.

Bangsa Khazar sejarahnya dipengaruhi oleh kedua kekaisaran ini, tetapi yang lebih penting bahwa kerajaan Khazar mendiami wilayah yang kemudian menjadi bagian selatan wilayah Rusia yang terletak antara Laut Hitam dan Laut Kaspia. Sebagai hasilnya, sejarah menentukan bangsa Rusia dan bangsa Khazars menjalin hubungan yang masih terjadi sampai dengan hari ini. Bilamana Anda belum pernah mendengar mengenai bangsa Khazars, Saya kira Saya harus menyebutkan dimana Anda melihat dan mempelajari lebih lanjut mengenai mereka. Pada tahun 1976 sebuah buku mengenai bangsa Khazars diterbitkan oleh seorang penulis Inggris [seorang Yahudi Khazars) Arthur Koestler.

Bukunya berjudul, The thirteenth tribe - The Khazar Empire And Its Heritage.- Suku Bangsa Ketiga Belas – Kekaisaran Bangsa Khazar dan Warisannya. Penerbit Amerika adalah Random House, New York. (menurut informasi, buku ini sudah tidak beredar di pasaran) Sejarah mencatat bahwa bangsa Khazars terdiri dari campuran bangsa Mongols, Turki dan Finlandia. Dalam awal abad ke-3 M, mereka dapat dikenal dengan kesejahteraannya yang ajeg di wilayah Persia dan Armenia. Kemudian pada abad ke-5, bangsa Khazars berada diantara gerombolan perusak Attila, bangsa Hun. Sekitar tahun 550 M, bangsa Khazars yang nomadik, mereka mulai menetap di wilayah sebelah Utara Caucasus antara Laut Hitam dan Laut Kaspia.

Ibukota kerajaan Khazars adalah Itil dibangun dihulu Sungai Volga yang mengalir ke Laut Kaspia, dalam rangka mengkontrol lalu lintas sungai. Bangsa Khazars kemudian memungut pajak 10% setiap muatan yang melintasi Itil di sungai Volga. Mereka yang menolak diserang dan di bantai. Akhirnya kerajaan Khazars dibangun di Caucasus, bangsa Khazars secara perlahan memulai menciptakan sebuah kekaisaran rakyat yang ditaklukannya. Khazars terus melakukan perluasan wilayahnya termasuk menaklukan suku Slavonic, yang cinta damai dibandingkan dengan bangsa Khazars, diserang dan ditaklukan. Wilayahnya dijadikan bagian dari Kekaisaran bangsa Khazar, diminta untuk menghormati secara terus menerus kepada Kerajaan Khazar. Tentu saja penghormatan yang dilakukan oleh rakyat yang dikalahkan selalu merupakan keistimewaan, tetapi bukan gayanya Khazars.

Apa yang disebutnya sebagai Kekaisaran Agung dunia selalu memberikan sesuatu sebagai imbalannya atas pajak yang diberikannya. Roma, misalnya, rakyat yang ditaklukan dijadikan warganegaranya; dan sebagai balasan atas pajak yang mereka bayarkan, mereka membawa serta peradaban, tata tertib perlindungan dari serangan musuh. Namun tidak terjadi di kekaisaran bangsa Khazar. Rakyat yang menjadi subyek Khazars hanya menerima satu hal sebagai balasan atas pembayaran upetinya, dan itu adalah janji yang tidak jelas - bangsa Khazars akan menahan serangan dan penjarahan selama mereka membayarkan upeti. Namun penduduk Kekaisaran Khazar tidak lebih daripada korban the giant protection racket. Maharaja Khazar oleh sebab itu tidak disukai baik di dalam negeri maupun di luar negeri, tetapi mereka juga ditakuti karena kekejamannya terhadap siapa saja yang menentangnya. Dan kemudian Kekaisaran Khazar diperluas ke arah utara sampai ke Kiev [Kiev sekarang ibukota UKRAINA], di Sungai Dnieper. Kiev merupakan kota terbesar di Ukraina dan juga sebagai kota pelabuhan utama. Salah satu kota tertua Eropa, dan sebagai kota pusat perdagangan pada awal abad ke-5 dan menjadi ibukota KIEVAN RUSSIA pada abad ke-9 dan ke arah barat termasuk Magyars, nenek moyang orang Hongaria modern. Kira-kira pada tahun 740M, terjadi sebuah peristiwa.

Bangsa Khazars di bawah tekanan terus menerus kedua super power tetangganya, Byzantium dan Muslim, apakah menerima agama Kristen atau Islam, akan tetapi penguasa bangsa Khazar, yang disebut Khakan, mendengar ada agama ketiga yaitu JUDAISME atau YAHUDI. Nampaknya untuk alasan-alasan kemandirian politik, Khakan mengumumkan bahwa bangsa Khazars menerima Judaisme sebagai agama mereka Dalam waktu satu malam seluruh kelompok baru, bangsa Khazars yang suka berperang, tiba-tiba menyatakan dirinya sebagai YAHUDI – menerima YAHUDI. Kerajaan Khazar mulai dideskripsikan sebagai ‘Kerajaan Yahudi' oleh sejarawan pada waktu itu. Penerus penguasa Khazar mengambil nama Yahudi, dan selama akhir abad ke-9 kerajaan Khazar menjadi tempat berlindung orang-orang Yahudi dari tempat lain. Sementara itu kekejaman penguasa Khazar terhadap penduduk yang ditaklukannya tetap tidak berubah. Namun kemudian selama abad ke-8 muncul ke kancah pemain baru, berasal dari sungai besar Dnieper , Don dan Volga – bangsa Vikings dari sebelah timur. Mereka dikenal sebagai bangsa VARANCIANS, atau bangsa RUS.

Seperti bangsa Vikings lainnya, bangsa Rus pengelana tulen dan pejuang yang gigih, namun ketika berhadapan dengan bangsa Khazars, bangsa Rus seringkali kalah dan membayar upeti seperti yang lainnya. Pada tahun 862 seorang pemimpin bangsa Rus bernama Rurik membangun kota Novgorod, dan lahirlah bangsa Rusia. Bangsa Rus Vikings berdiam diantara suku bangsa Slavonic di bawah kekuasaan Khazar, dan perjuangan antara bangsa Vikings dan Khazars berubah dalam karakternya, dan menjadi perjuangan oleh bangsa Rusia yang sedang tumbuh untuk merdeka dari tekanan Khazar. Lebih dari seabad kemudian setelah didirikannya kota pertama di Rusia, terjadi peristiwa penting lainnya. Pemimpin Rusia, Prince Vladimir of Kiev, memeluk agama Kristen pada tahun 989. Dia aktif mendakwahkan agama Kristen di Rusia, dan sebagai kenang-kenangan oleh bangsa Rusia dewasa ini ia disebutnya sebagai 'Saint Vladimir;' dan dengan demikian tradisi Rusia sebagai sebuah bangsa Kristen dimulai sejak seribu tahunan lalu. Pindah agamanya Vladimir juga mengantarkan Rusia beraliansi dengan dengan Byzantium.

Penguasa Byzantium selalu takut terhadap bangsa Khazars, dan sementara bangsa Rusia masih berjuang untuk membebaskan dirinya dari tekanan bangsa Khazars. Dan kemudian pada tahun 1016, kekuatan gabungan bangsa Rusia dan Byzantium menyerang kerajaan Khazar. Kerajaan Khazar hancur-lebur dan kerajaan Khazars jatuh. Akhirnya kebanyakan Yahudi Khazar berimigrasi ke wilayah lain. Kebanyakan dari mereka berhenti dan tinggal di Europa Timur, dimana mereka berbaur dan menikah dengan Yahudi yang lainnya. Seperti Yahudi Semit 1000 tahun yang lalu, Yahudi Khazar kemudian menyebar ke berbagai wilayah. Kerajaan Khazars sudah tidak ada lagi. Setelah bangsa Khazars pindah dan hidup bersama orang Yahudi, Yahudi Khazar meninggalkan warisan yang berbeda dari Yahudi yang lainnya dari generasi ke generasi. Satu unsur warisan Yahudi Khazar adalah sebuah bentuk militant dari ZIONISME. Dalam pandangan Yahudi Khazar, wilayah yang didiami oleh Israel kuno harus diambil kembali bukan dengan sebuah keajaiban akan tetapi dengan cara kekuatan senjata.

Inilah yang dimaksudkan dengan Zionisme dewasa ini, dan kekuatan ini yang menciptakan bangsa yang menyebut dirinya sebagai Israel dewasa ini. Ramuan penting warisan Yahudi Khazar adalah kebencian terhadap agama Kristen, dan bangsa Rusia unggul dalam kepercayaan Kristen. Agama Kristen dipandang sebagai kekuatan yang meruntuhkan Kerajaan Yahudi pada masa lalu yang disebut Kerajaan [Khazarial]. Dewasa ini mereka banyak yang berkuasa di Rusia, Yahudi Khazar masih ingin mendirikan kembali kekuasaannya dan sudah satu milennium mereka berupaya secara terus-menerus untuk melakukan hal tersebut. Pada tahun 1917 Yahudi Khazar melewati sebuah batu loncatan ke arah penciptaan negara mereka di Palestine. Dan pada tahun yang sama mereka juga menciptakan Revolusi Bolshewik di Rusia. Diikuti dengan holocaust terhadap orang-orang Kristen, kejadian seperti itu tidak pernah diketahui oleh dunia. Yahudi Khazar sekali lagi mengkontrol Rusia setelah lebih dari 900 tahun, dan kemudian mereka merancang untuk menghancurkan orang-orang Kristen Rusia lebih dari 100-juta orang Kristen dibunuh, pada waktu yang sama lebih dari 20-juta orang yang beragama Yahudi juga mati ditangan Yahudi Khazar.

Ini adalah apa yang ditentang oleh orang-orang Kristen Rusia dalam perjuangannya selama 60-tahunan untuk menggulingkan rezim atheis Bolshewik, namun pada akhirnya mereka berhasil merobohkan programnya, dan sekarang sudah berusia 1000-tahun usia peperangan antara orang Kristen Rusia dengan Yahudi Khazar dan sedang mencapai klimaksnya. Pada tanggal 19 Agustus 1979, Rabbi Joel Teitelbaum mati di New York. Dia mati pada pagi hari dan dikuburkan sore hari pada hari yang sama. Pemberitahuan yang sangat mendadak, namun 100.000 orang pria Yahudi datang pada saat penguburan. Sulit untuk dibayangkan, karena pemberitahuan yang mendadak itu lebih dari seratus ribuan orang lagi yang tidak dapat datang. Satu bulan kemudian, pada tanggal 18 September, pengikutnya menaburkan bunga di tugu peringatan, dan dengan jalan memasang iklan dalam surat kabar "New York Times," yang jelas persannya di katakan untuk orang Yahudi.

Iklan itu memuat pernyataan yang diantaranya dikutip, mengatakan: "Dia adalah seorang pemimpin semua orang Yahudi dimana saja yang tidak perlu dipersoalkan lagi, yang tidak terjangkiti faham Zionis;" dan juga, dikutip: "Dengan keberaniannya yang sangat jarang pada masa kini, dia menyebut negara Zionist 'sebuah karya Setan', sebuah penghujatan dan penghinaan kepada Tuhan.' Menurutnya, menumpahkan darah untuk kepentingan negara Zionis adalah menjijikan." Kata-kata ini diucapkan oleh Yahudi Orthodox pada saat bela sungkawa kematian pemimpinnya. Dan penguasa baru Kristen Rusia akan setuju, bagi mereka juga negara Zionis Israel dianggapnya sebagai palsu, jahat dan berbahaya serta memperdayakan sama-sama baik Kristen maupun Yahudi. Negara Khazar yang disebut "Kerajaan Yahudi" [Khazaria] seribu tahunan yang lalu adalah parasit, hidup dari hasil upeti dari rakyat yang ditaklukannya.

Demikian juga dewasa ini, kelangsungan hidup Israel tergantung atas aliran bantuan yang tidak pernah berhenti dari luar. Left unchecked, bangsa Rusia percaya bahwa Yahudi Khazar akan menghancurkan agama Kristen dengan bantuan Zionisme ; jadi penguasa Kristen Rusia sedang melakukan perlawanan terhadap musuh seribu tahunnya bangsa Khazars. Kami orang Amerika yang menyebut diri kami sebagai orang Kristen tidak cukup peduli untuk membuka mata mencoba menyelematkan negeri kita sendiri, atau mempertahankan keyakinan kita. Dengan demikian wilayah kita menjadi ajang pertempuran antara orang Kristen Rusia dan musuhnya yang mematikan Bolshewiks dan Zionis. Dan suka atau tidak kita dikejar dalam perang habis-habisan ini. (Source: Dr Peter David Beter's Audio Letter #50. Transcribed by Amber Clark and published in the Wisconsin Report, October 25, 1979). (Saya kira Rusia masih dikuasai Yahudi Khazars) Sumber Nah bangsa inilah Gog Magog sebenarnya keturunan dari Yafet dan Orang terkaya di dunia Rothschild yang mempunyai World Bank dan menguasai 90% Bank Dunia adalah Yahudi Khazar atau Gog Magog.

Mereka telah menipu dunia dengan mengatakan bahwa Israel adalah tanah leluhurnya. Padahal Kampung halaman mereka bukan disana.
Pencetus Zionisme (merebut kembali tanah Israel) adalah bukan orang-orang yahudi sebagai Bangsa, Ras maupun Agama.
Mereka sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Ras Yahudi.
Mereka adalah bangsa Khazar..Atas penipuan ini...maka mereka tetap adalah bangsa penjajah...
Kalau dibilang ini masalah agama, agama apa? Mereka juga bukan penganut Yahudi....
Kitab mereka adalah Talmud. Sementara Yahudi adalah Taurat...
Seluruh dunia sudah tertipu....demi melancarkan niat mereka menjajah palestina, untuk dijadikan negara mereka.

Kisah Ya’juj dan Ma’juj

Saat menjelang wafat, Nabi Nuh a.s memanggil anak-anaknya untuk menghadap beliau. Maka Sam a.s segera datang menemuinya, namun kedua saudaranya tidak muncul yaitu Ham dan Yafits. Akibat dari ketidakpatuhan Ham dan Yafits, Allah kemudian menurunkan ganjaran kepada mereka. Yafits yang tidak datang karena lebih memilih berdua dengan istrinya (berhubungan suami istri) kemudian melahirkan anak bernama Sannaf. Kelak kemudian Sannaf menurunkan anak yang ganjil. Ketika dilahirkan, keluar sekaligus anak-anak dalam wujud kurang sempurna. Selain itu ukuran besar dan bobot masing-masing juga berbeda, ada yang fisiknya besar sedangkan lainnya kecil. Untuk selanjutnya yang besar kemudian terus tumbuh hingga melebihi ukuran normal (raksasa), sebaliknya yang bertubuh kecil terus kecil seperti liliput. Mereka kemudian dikenal sebagai Ya’juj dan Ma’juj.

Selain wujudnya yang ganjil, Ya’juj dan Ma’juj mempunyai nafsu makan yang melebihi normal. Padahal bilamana mereka makan tumbuhan tertentu maka tumbuhan itu akan berhenti tumbuh sampai kemudian mati. Demikian pula bila minum air dari suatu tempat maka airnya tidak akan bertambah lagi. Sehingga banyak sumber-sumber air dan sungai menjadi kering karenanya. Masyarakat di sekitar mereka pun harus menanggung dampaknya yaitu krisis pangan dan air.

Karena interaksi sosial yang tidak kondusif akibat masalah yang dibawa oleh Ya’juj dan Ma’juj ini maka mereka kemudian cenderung mengisolasi diri di suatu celah gunung di tengah-tengah komunitas induk bangsa-bangsa keturunan Yafits lainnya, yang antara lain meliputi bangsa: Armenia, Rusia/Slavia, Romawi dan Turk di wilayah-wilayah luas seputar Laut Hitam. Namun bilamana mereka membutuhkan makan dan minum, akan keluar secara serentak bersama-sama ke daerah-daerah sekitarnya yang masih belum tersentuh oleh mereka sebelumnya. Karena kondisi fisiknya, mereka mampu menempuh perjalanan jauh dalam waktu relatif lebih pendek dibandingkan oleh manusia normal. Bagi golongan raksasa karena mereka mampu melangkah dengan jangkauan lebar sedangkan golongan liliput adalah karena sedemikian ringan bobotnya terhadap gravitasi bumi sehingga bila berjalan sangat cepat seperti meluncur bersama angin.

Pada puncak keresahan masyarakat pada masa itu, Allah SWT kemudian mengutus salah satu hambaNya yang berkulit kehitaman (tetapi bukan termasuk ras negro) dengan dua benjolan kecil (tidak bertulang tanduk) di kedua sisi keningnya yang sebenarnya lebih sering tak tampak karena tertutupi oleh surbannya yaitu Nabi Dzul Qarnain a.s (QS 18:93) untuk menghadang laju Ya’juj dan Ma’juj yang telah menimbulkan kerusakan alam yang akan terus bertambah luas.

Sesuai petunjuk Allah, Nabi Dzul Qarnain a.s kemudian mengajak masyarakat di sekitar lokasi tempat tinggal Ya’juj dan Ma’juj untuk bersama-sama membuat dinding tembaga dan besi yang akan menutup satu-satunya lubang keluar masuk mereka (QS 18:96). Setelah selesai, masyarakat yang sebelumnya tinggal di dekat dinding diajak untuk meninggalkan lokasi yang sudah kering tanpa air dan tumbuhan tersebut menuju ke tempat lain yang lebih layak untuk dihuni.

Allah SWT juga mewahyukan kepada Nabi Dzul Qarnain a.s bahwa dinding itu akan terjaga dan baru akan terbuka bila saatnya tiba yaitu kelak menjelang datangnya Hari Kiamat (QS 18:98). Kemudian Allah menjadikan gaib (tidak terlihat) lokasi dinding tersebut.

Ya’juj dan Ma’juj yang telah terkurung terus berupaya membuka dinding logam tersebut dengan segala cara, bahkan dengan menjilatinya karena mereka tahu bahwa benda apapun yang mereka sentuh dengan mulutnya akan berhenti tumbuh/bertambah, kering atau tergerus. Cara ini mampu membuat bagian-bagian dinding yang mereka sentuh menjadi tipis. Namun setiap kali akan berlubang, Allah mengembalikan lagi kondisinya seperti semula. Untuk bertahan hidup selama terkurung di balik dinding, Allah menumbuhkan sejenis lumut, sebagai satu-satunya tumbuhan yang dapat terus tumbuh dan justru makin bertambah banyak setiap kali dimakan oleh masyarakat Ya’juj dan Ma’juj.

Kelak menjelang Kiamat, salah seorang pemimpin mereka mengatakan kata kunci “InsyaAllah” maka kemudian terbukalah dinding tersebut sekaligus kegaibannya dari penglihatan masyarakat luar sebelumnya. Dan Kaum Ya’juj dan Ma’juj yang selama ribuan tahun terkurung telah berkembang pesat jumlahnya akan turun bagaikan air bah (QS 21:96) memuaskan nafsu makan dan minumnya di segala tempat yang dapat mereka jangkau di bumi.

Masyarakat muslim termasuk Nabi Isa a.s yang telah terpojok di sebuah gunung (tur) lalu bersama-sama berdoa kepada Allah agar terhindar dari masalah akibat perbuatan Ya’juj dan Ma’juj. Kemudian Allah SWT memerintahkan ulat-ulat yang tiba-tiba menembus keluar dari tengkuk Ya’juj dan Ma’juj yang langsung mengakibatkan kematian mereka secara serentak. WalLahu a’lamu bil-shawab.

Jumat, 18 April 2008

Ya'juj Ma'juj dikalahkan Pasukan Muslim di Ain Jalut

Ya'juj Ma'juj dikalahkan Pasukan Muslim di Ain Jalut

Salah satu peristiwa penting yang terjadi di dalam bulan Ramadhan adalah peristiwa peperangan Ain Jalut. Peristiwa ini terjadi pada 25 Ramadhan tahun 658 H di Ain Jalut dan Bisan, Palestin. Medan pertempuran tersebut terletak tidak jauh dari bandar al-Quds.

Ia adalah satu peperangan yang berjaya menebus kembali maruah umat Islam setelah dikalahkan oleh tentera Tartar (mongol) di dalam peristiwa siri-siri serangan Tartar ke atas bumi Islam. Panglima yang berjaya mengembalikan kemuliaan umat ini adalah Saifudin Qutuz, salah seorang panglima Islam yang hebat. Kehebatan Qutuz dan kepentingan peperangan Ain Jalut hanya akan dapat dirasai jika kita dapat menyelami penderitaan umat hasil dari serangan Tartar ke atas umat Islam.

Kemaraan Tartar ke Negara Islam (617 H dan 628 H)

Serangan Tartar ke atas umat Islam di bawah pimpinan kerajaan Abbasiah sebenarnya tidak terjadi hanya pada tahun 656 H di dalam peristiwa kejatuhan Baghdad. Sebaliknya sebelum itu sudah pun ada dua siri serangan Tartar iaitu pada tahun 617 H dan 628 H.

Serangan pertama Tartar ke atas umat Islam terjadi pada tahun 617 H - 620 H di bawah pimpinan Genghis Khan. Serangan kali pertama ini mempunyai sebabnya yang diperselisihkan oleh ahli sejarah Islam. Apa pun puncanya, Dr. Raghib as-Sarjani lebih cenderung untuk mengatakan bahawa niat untuk menjatuhkan kerajaan Abbasiah memang telah wujud di dalam hati Genghis Khan sejak sekian lama.

Oleh kerana jarak yang jauh dari bumi China ke bumi Iraq, Genghis Khan menumpukan serangan pertamanya pada kali ini ke atas bumi Afghanistan dan Uzbekistan. Bumi ini dipilih kerana ia mempunyai sumber asli yang banyak dan amat sesuai untuk dijadikan pengkalan tentera Tartar untuk siri-siri serangan yang seterusnya.

Serangan pertama ini berjaya. Tartar berjaya bertapak di bumi tersebut dan bumi sekitarnya (Turkimenistan, Kazakhastan, Tajikistan, Pakistan dan sebahagian dari Iran). Kesemua negara-negara ini dahulunya dikenali sebagai Daulah Khawarizmiah. Hasil dari kejayaan ini, pemerintahan Tartar mula kukuh di kawasan tersebut. Mereka mempunyai pengkalan dan pusat pentadbiran mereka di tengah-tengah kerajaan Islam.

Serangan kedua Tartar ke atas umat Islam pula terjadi pada tahun 628 H. Pada tahun 624 H, Genghis Khan telah digantikan oleh seorang lagi raja Tartar yang tidak kurang bengisnya iaitu Okitai. Kerajaan Tartardi Mongolia dan China pada masa itu berada dalam keadaan stabil dan kuat. Keadaan ini memberikan banyak kelebihan kepada Okitai.

Lalu bermulalah serangan kedua Tartar ke atas umat Islam sebagai menyambung serangan yang pertama di zaman Genghis Khan. Serangan pada kali ini ditumpukan di sekitar bumi Rusia dan Eropah. Okitai melantik panglima perangnya, Syurmajan untuk mengepalai serangan pada kali ini.

Suasana bertambah buruk pada serangan kedua ini kerana pimpinan Islam pada masa itu berada dalam keadaan berpecah belah. Manakala sebahagian umat pula telah mula menunjukkan sikap pengecutnya dan tidak berani untuk melancarkan jihad. Ibnu al-Athir di dalam kitabnya al-Kamil meriwayatkan beberapa cerita yang didengarinya daripada sebahagian umat Islam yang berjaya melepaskan diri dari serangan kedua ini. Di antaranya:

a. Seorang tentera Tartar masuk ke dalam sebuah perkampungan seorang diri. Kemudian dia membunuh penduduk kampung tersebut seorang demi seorang tanpa mendapat tentangan dari sesiapa pun.

b. Seorang tentera Tartar menangkap seorang muslim. Oleh kerana tentera Tartar tersebut tidak bersenjata, dia telah mengarahkan pemuda muslim tadi agar melekapkan mukanya ke tanah dan tidak bergerak. Tentera Tartar tersebut pulang mengambil senjata dan kemudian datang kembali lalu membunuh pemuda tersebut.

c. Tentera Tartar memasuki bandar Badlis (sekarang berada di selatan Turki). Laluan ke bandar tersebut adalah laluan di celah-celah bukit yang sungguh sempit. Tidak ada seorang pun tentera Islam yang berjaya melepaskan diri dari serangan Tartar di bandar tersebut. Penduduk bandar tersebut pula melarikan diri ke atas bukit dan membiarkan Tartar membakar keseluruhan bandar tersebut.

Serangan Ketiga (656 H) dan Kejatuhan Baghdad

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Kerajaan Tartar pada masa ini dipecahkan kepada tiga wilayah utama. Sebahagian ahli sejarah menamakannya ‘segitiga emas’. Raja Tartar pada masa ini adalah Manku Khan, seorang lagi Raja Tartar yang berjiwa keras dan mempunyai keazaman yang kuat. Beliau mentadbir ibu negara kerajaan Tartar, Qaraquram dengan dibantu oleh adiknya Ariq Bufa. Seorang lagi adiknya iaitu Qublai pula mentadbir jajahan Tartar di sebelah Timur (meliputi China, Korea dan bumi sekitarnya). Manakala jajahan Tartar di sebelah Iran dan bumi sekitarnya diserahkan kepada adiknya Holago, nama yang tidak asing bagi umat Islam.

Manku Khan ingin meneruskan misi Tartar yang seterusnya iaitu menjatuhkan kota Baghdad dan menyerang bumi Syam (Palestin, Syria, Jordan dan Lubnan) dan Mesir. Tugas ini telah disandarkan kepada Holago, pahlawan Tartar yang mabukkan darah manusia dan dianggap sebagai jelmaan Genghis Khan. Dr. Raghib Sarjani menganggapnya sebagai manusia paling ganas sepanjang sejarah dunia. Kejahatannya itu makin bertambah setelah beliau berkahwin dengan Taqazkhatun, permaisuri Mongolia beragama Kristian yang amat membenci umat Islam.

Oleh kerana Baghdad adalah ibu negara kerajaan Islam Abbasiah, persiapan yang dilakukan oleh Holago dalam serangan ini agak teliti dan kemas. Tentera Tartar telah dipecahkan kepada tiga kumpulan dan datang dari tiga arah yang berlainan.

a. Pasukan pertama dipimpin oleh Holago sendiri. Ia dibantu oleh tentera elit Tartar dibawah pimpinan Bato. Misi pasukan pertama ini adalah mengepung bahagian timur kota Baghdad.

b. Pasukan kedua dipimpin oleh Katabgha, pahlawan Holago yang terbaik. Tugas pasukan ini adalah mengepung bahagian tenggara kota Baghdad. Katabgha jugalah yang memimpin tentera Tartar menentang Qutuz di dalam peperangan Ain Jalut.

c. Pasukan ketiga pula dipimpin oleh Bigo. Pasukan ketiga ini adalah tentera yang menjaga sempadan Anadol (sekarang di Turki). Tugas pasukan ini adalah untuk mendatangi Baghdad dari arah utara dan seterusnya mengepung bahagian barat kota Baghdad.

Ketelitian perancangan Holago boleh dilihat dari beberapa sudut:

a. Pasukan pertama dan kedua datang dari jarak 45o kilometer sebelum kota Baghdad. Walau pun begitu Holago berjaya mengaburi mata kerajaan Abbasiah sehinggakan tentera kerajaan Abbasiah hanya mengetahui kedatangan tentera itu ketika mereka hanya beberapa kilometer dari kota Baghdad.

b. Pasukan ketiga pula datang dari jarak 1,000 kilometer sebelum kota Baghdad. Tetapi pasukan ini berjaya sampai tepat pada masa yang dijanjikan untuk bergabung dengan kedua-dua pasukan yang lain.

c. Pasukan ketiga terpaksa merentasi 1,000 km perjalanan di bumi Turki dan Iraq (kedua-duanya adalah bumi Islam). Perjalanan ini akan merentasi perkampungan Islam dan kemungkinan terpaksa berhadapan dengan pertempuran awal. Amat menakjubkan apabila mereka berjaya berjalan tanpa disedari oleh orang Islam kecuali setelah mereka berada pada jarak 50 km dari kota Baghdad di sebelah Barat Daya. Kejayaan ini setelah mereka berjaya merasuah Gabenor Anadol, Qalaj Arsalan dan Gabenor Mosul, Badruddin Lu’lu’ sehingga kedua-duanya bertindak mengkhianati umat Islam.

Berlakulah peperangan. Jatuhlah kota Baghdad dengan segala cerita duka di dalamnya. Menurut Abul Hasan Ali an-Nadwi, umat Islam yang terbunuh di dalam peristiwa kejatuhan Baghdad tersebut adalah 1,800,000 orang. Satu angka yang cukup menakutkan sesiapa sahaja yang cuba membayangkannya. Darah mengalir di jalanan. Buku-buku dicampak ke dalam sungai dan semua itu dianggarkan berjumlah sebanyak dua juta naskhah buku. Ahli sejarah menganggap itu sebagai punca kemunduran umat Islam selepas itu. Semua itu terjadi dalam masa 40 hari.

Kejatuhan Syam

Kejatuhan Baghdad bukan kemuncak bagi penderitaan umat pada ketika itu. Sebaliknya umat semakin menderita dengan sikap sebahagian raja dan ulama’ Islam pada masa itu yang sanggup menggadaikan agama semata-mata untuk mendapat jaminan kehidupan dari Tartar.

Siapakah yang tidak sayu bila melihat sebahagian raja Islam menghulurkan tangan persahabatan dengan Holago sedangkan darah jutaan umat Islam masih lagi belum kering? Raja Mosul, Badruddin Lu’lu’ menghulurkan tangan persahabatan dengan Holago. Begitu juga Kaikawis II dan Qalaj Arsalan, Raja Anadol. Raja Halab dan Damsyik, al-Nasir Yusof  juga mengambil langkah sama. Raja-raja itu telah membuka Iraq Utara, sebahagian Syam dan Turki kepada Tartar tanpa peperangan. Tidak cukup setakat itu. Tanggungan umat semakin berat apabila menyaksikan sebahagian ulama’ pada masa itu mengeluarkan fatwa mengharuskan perjanjian damai tersebut dengan hujah-hujah yang amat mengelirukan.

Hanya seorang Raja di daerah tersebut yang mengiklankan jihad. Raja tersebut adalah Al-Kamil Muhammad al-Ayubi, Raja Miyafarqin. Miyafarqin adalah bandar yang terletak sekarang ini timur Turki menuju ke sebelah barat Turki. Tentera Raja Al-Kamil Muhammad al-Ayubi menguasai timur Turki, barat laut Iraq dan timur laut Syria.

Tetapi kegilaan Tartar mengatasi segala-galanya. Bandar Miyafarqin dikepung dan akhirnya jatuh. Begitu juga dengan bandar Halab. Bandar Damsyik juga jatuh. Kemuncaknya adalah penjajahan Tartar ke atas bumi Palestin.

Mesir Bumi Ribat (Benteng Islam)

Ketika Tartar memulakan serangannya ke atas umat Islam, Mesir berada dalam krisis yang amat runcing. Ia berada di bawah pemerintahan kerajaan Mamalik (mameluk) dan melalui satu pergolakan politik yang amat dahsyat. Kerajaan Mamalik Bahriah (salah satu fasa dalam kerajaan Mamalik) mentadbir Mesir selama 144 tahun. Dalam tempoh tersebut Mesir diperintah oleh 29 orang sultan. Satu jumlah yang banyak untuk pemerintahan selama satu kurun setengah. Daripada 29 orang sultan tersebut, 10 daripadanya mati dibunuh dan 12 daripadanya digulingkan. Ini jelas menunjukkan kepada kita bahawa kekuatan dan kekerasan adalah asas perubahan di dalam kerajaan Mamalik.

Setelah fasa Mamalik Bahriah, menyusul pula fasa Mamalik Muizziah. Pemerintah awal di fasa ini adalah Raja Izzuddin Aibak. Beliau berjaya mengembalikan kestabilan politik kepada Mesir. Tetapi kestabilan itu hanya bertahan selama tujuh tahun. Keadaan kembali kucar kacir selepas pembunuhan beliau dan seterusnya pembunuhan isterinya, Syajarah ad-Dur. Setelah bertukar ganti pemerintah, akhirnya Mesir diperintah oleh Saifuddin Qutuz.

Pembunuhan Raja Izzudin Aibak dan isterinya telah membawa kepada perselisihan di antara Mamalik Bahriah (pendukung kerajaan lama) dan Mamalik Muizziah (kerajaan baru yang diperintah oleh Qutuz) dan ianya masih berterusan di zaman Qutuz. Sebahagian pendukung Mamalik Bahriah mengambil sikap berpindah ke bumi Syam dan lain-lain. Manakala yang tinggal menetap di Mesir mengambil sikap mengasingkan diri. Ini menjadikan Mesir lemah  dari sudut pertahanan kerana asas kepada pasukan tentera Mesir adalah pendukung Mamalik Bahriah.

Di masa yang sama, serangan Tartar ke atas bumi Syam telah memutuskan Mesir dan Syam. Tiada perhubungan di antara keduanya. Mesir juga tidak mendapat bantuan dari Sudan dan negara-negara di utara Afrika. Ini menjadikan Mesir seolah-olah sendirian di tengah-tengah krisis yang terjadi di seluruh negara Islam.

Keadaan menjadi semakin buruk apabila Mesir juga pada masa itu ditimpa krisis ekonomi. Siri-siri perang Salib yang terjadi sebelum itu telah melumpuhkan ekonomi Mesir. Sebahagian dari lokasi perang salib adalah di bumi Mesir. Tentera Mesir juga adalah tentera yang banyak terlibat di dalam perang salib yang terjadi di tempat lain. Salehudin Ayubi menjadikan Mesir sebagai salah satu benteng pertahanannya.

Disamping sebahagian tentera Salib yang masih ada di bumi Islam, masalah ditambah lagi dengan kedatangan musuh baru Islam iaitu Tartar.

Qutuz, Penyelamat Ummah

Qutuz menaiki tahta Mesir pada 24 Zulqaedah 657 H.

Sebelum beliau menaiki tahta Mesir, Serangan pertama Tartar (617 H), serangan kedua Tartar (628 H) dan kejatuhan Baghdad (656 H) telah pun terjadi dan meninggalkan kesan yang amat parah kepada umat Islam di luar Mesir. Selepas beliau menaiki tahta Mesir pula, Halab jatuh ke tangan Tartar pada Safar 658 H dan Damsyik jatuh pada Rabi’ul Awal 658 H menjadikan keadaan di luar Mesir bertambah gawat. Kejatuhan Palestin keseluruhannya juga terjadi pada masa yang sama. Mesir bersempadan dengan Palestin di sebelah timur Mesir pada bandar Gaza.

Demikianlah kita melihat Qutuz terbeban dengan satu masalah yang cukup berat. Sasaran Tartar seterusnya adalah Mesir sedangkan Mesir tidak bersedia untuk menambah masalah baru disamping masalah-masalah dalaman dan luaran yang sedia ada.

Sikap yang ditunjukkan oleh Qutuz amat membanggakan umat Islam pada ketika itu. Sikap itu terus menerus menjadi punca kepada kehebatannya pada pandangan mata umat sepanjang zaman. Qutuz mengambil keputusan untuk menghadapi Tartar dan tidak akan lari seperti mana yang dilakukan oleh sebahagian umat Islam. Dia juga mengambil sikap tidak akan menghulurkan perdamaian kepada Tartar sebagai mana yang menjadi pilihan sebahagian Raja-raja Islam ketika itu.

Tiga Langkah Awal

Qutuz mengambil tiga langkah awal sebelum melancarkan peperangan ke atas Tartar. Ketiga-tiga langkah ini dilihat amat berkesan dan menjadi sumber kekuatan kepada tentera Islam pada ketika itu.

Langkah pertama yang diambil oleh Qutuz adalah mengembalikan kestabilan keadaan dalaman Mesir. Beliau memanggil golongan istana, pembesar-pembesar, menteri-menteri, ulama’-ulama’ dan golongan berpengaruh di dalam masyarakat. Beliau berkata kepada mereka: “Apa yang aku inginkan dari jawatan ini hanyalah agar kita bersatu untuk melawan Tartar. Urusan itu tidak mampu diselesaikan tanpa Raja. Apabila kita berjaya keluar dari masalah ini dan mengalahkan Tartar, urusan ini terletak di tangan kamu semua. Pilihlah sesiapa yang kamu kehendaki untuk menjadi pemerintah.”

Ucapan Qutuz tersebut telah meredakan ketamakan sebahagian dari pembesar yang berniat untuk merampas tahta Mesir dari tangan Qutuz.

Di masa yang sama beliau telah memecat Menteri, Ibnu binti al-A’az dan menggantikannya dengan Zainuddin Ya’kub bin Abd Rafi’. Ini kerana beliau lebih meyakini kesetiaan Zainuddin Ya’kub daripada Ibnu binti al-A’az.  Kemudian beliau mengekalkan Farisuddin Aqtai as-Soghir sebagai panglima tentera walau pun beliau adalah pendukung Mamalik Bahriah.

Langkah kedua yang telah dilakukan oleh Qutuz adalah memberikan pengampunan kepada semua pendukung Mamalik Bahriah. Perselisihan yang terjadi sebelum ini yang berpunca dari pembunuhan Raja Izzuddin Aibak ingin segera dihentikan oleh Qutuz.

Mamalik Bahriah mempunyai pengalaman yang luas di dalam medan peperangan. Di antara kehebatan yang pernah mereka tunjukkan adalah kemenangan mereka di dalam Perang Mansurah (salah satu siri perang Salib) pada tahun 648 H. Pengampunan itu telah berjaya memujuk mereka yang telah keluar meninggalkan Mesir untuk kembali ke Mesir. Rombongan pendukung Mamalik Bahriah kembali berduyun ke Mesir dari bumi Syam, Karak (di Jordan sekarang) dan bumi kerajaan Saljuk. Dengan itu Mesir berjaya mendapatkan kembali kekuatan tenteranya.

Langkah ketiga yang diambil oleh Qutuz adalah mengusahakan penyatuan semula antara Mesir dan Syam. Seperti yang diceritakan sebelum ini, Raja Damsyik dan Halab (sebahagian dari bumi Syam) iaitu Raja Nasir al-Ayubi telah melakukan perjanjian damai dengan Tartar. Perjanjian itu tidak berhenti setakat memohon perdamaian, bahkan Raja Nasir al-Ayubi pergi lebih jauh dari itu dengan meminta bantuan Tartar untuk menjatuhkan Mesir.

Qutuz menulis surat kepada Raja Nasir al-Ayubi memohon penyatuan Mesir dengan Syam. Bahkan beliau menyatakan kesanggupannya untuk duduk di bawah Raja Nasir al-Ayubi. Malangnya surat tersebut tidak dilayan.

Tetapi apabila Damsyik dan Halab ditawan oleh Tartar dan selepas Raja Nasir al-Ayubi lari menyelamatkan diri ke Karak, tentera Syam telah bergerak menuju ke Mesir dan bergabung dengan tentera Mamalik. Kesatuan ini menambahkan lagi kekuatan Mesir dan memberikannya satu semangat yang cukup kuat untuk berhadapan dengan Tartar.

Ketiga-tiga langkah ini telah memberikan Mesir satu kekuatan baru pada awal tahun 658 H. Di sini terserlah kepada kita kecekalan dan kesungguhan Qutuz. Ketiga-tiga langkah awal yang mungkin memerlukan masa yang panjang untuk dicapai, telah berjaya diselesaikan oleh Qutuz dalam masa tidak sampai tiga bulan sahaja dari tarikh beliau menaiki tahta Mesir.

Disimpulkan bahawa keadaan dunia Islam pada awal tahun 658 H adalah:

a. Mesir berjaya mendapatkan kekuatannya

b. Baghdad, Halab dan Damsyik jatuh ke tangan Tartar disamping negara-negara lain yang telah jatuh sebelumya (Daulah al-Khowarizmiah, Daulah Arminiah, Daulah Karjiah)

c. Palestin keseluruhannya jatuh ke tangan Tartar termasuk Gaza yang terletak hanya 35 kilometer dari sempadan Mesir

Surat Ancaman Holago

Ketika Mesir masih lagi di peringkat awal untuk mempersiapkan dirinya, empat orang wakil Holago telah datang memberikan surat perutusan dari beliau. Wakil tersebut datang beberapa hari selepas kejatuhan Halab (Safar 658 H), iaitu hanya tiga bulan selepas Qutuz menaiki tahta Mesir (Zulqaedah 657 H).

Surat tersebut telah memperlekehkan kekuatan tentera Islam dan memberikan kata dua kepada mereka; menyerah atau berperang. Sebahagian dari pembesar pada masa itu mula merasa takut dan ingin menarik diri kerana persiapan Mesir pada ketika masih lagi tidak seberapa jika dibandingkan dengan Tartar yang menguasai satu kawasan jajahan yang cukup luas (dari Korea ke Poland hari ini).

Qutuz mengumpulkan pembesar-pembesar dan panglima-panglima perangnya lalu berkata kepada mereka:

“Wahai pimpinan muslimin! Kamu diberi gaji dari Baitul Mal sedangkan kamu tidak suka berperang. Aku akan pergi berperang. Sesiapa yang memilih untuk berjihad, temankan aku. Sesiapa yang  tidak mahu berjihad, baliklah ke rumahnya. Allah akan memerhatikannya. Dosa kehormatan muslimin yang dicabuli akan ditanggung oleh orang yang tidak turut  berjihad.”

Kata-kata beliau telah menyentak dan menyedarkan kembali pembesar-pembesar Mesir ketika itu. Mereka bukan berhadapan dengan dua pilihan yang diberikan oleh Holago, tetapi mereka berhadapan dengan pilihan yang diberikan oleh Allah terhadap mereka. Jihad pada ketika itu adalah fardhu dan mereka tidak ada pilihan selain dari itu.

Setelah berunding dengan semua pembesar, akhirnya mereka memutuskan untuk membunuh keempat-empat utusan tersebut. Kepala mereka telah digantung di tengah bandar Kaherah.

Perbuatan ini yang bertujuan untuk menegaskan keberanian tentera Islam untuk berdepan dengan Tartar telah mendapat kritikan sebahagian dari pengkaji sejarah. Mereka berpendapat bahawa tidak terdapat sebab yang kuat untuk Qutuz membunuh kesemua utusan tersebut kerana Islam adalah agama yang tidak membenarkan utusan perang dibunuh.Walau pun begitu ada juga yang mengandaikan kemungkinan terjadi beberapa peristiwa yang membawa kepada pembunuhan tersebut tetapi tidak diketahui dan tidak tercatat dalam sejarah. Wallahu a’lam.

Masalah Belanjawan Perang dan Fatwa al-Izz bin Abdis Salam

Selesai dari masalah surat Holago, Qutuz berhadapan dengan satu masalah lain iaitu sumber kewangan untuk mempersiapkan Mesir menghadapi peperangan. Belanjawan yang besar diperlukan untuk memperbaiki benteng, jambatan, membeli senjata dan peralatan perang serta bekalan makanan yang mencukupi untuk tentera dan rakyat jika Mesir dikepung oleh Tartar. Dalam keadaan Mesir yang dilanda dengan krisis politk dan ekonomi ketika itu, Qutuz tidak mempunyai masa yang banyak untuk menyelesaikan masalah itu setelah surat ancaman Holago sampai kepadanya memberikan isyarat bahawa serangan Tartar akan datang pada bila-bila masa. Tartar sudah berada di sempadan Mesir.

Qutuz memanggil para pembesar negara lalu melakukan mesyuarat. Pilihan yang ada pada mereka adalah untuk mengutip duit dari rakyat jelata. Ia perlu dilakukan segera. Mereka tidak ada pilihan selain dari itu. Tetapi pilihan ini memerlukan satu fatwa dikeluarkan oleh ulama’ Islam kerana umat tidak pernah kenal ada cukai lain selain dari zakat. Tanpa fatwa tersebut, Qutuz tidak akan melakukannya kerana menyelesaikan masalah dengan jalan yang tidak syar’ie hanya akan menjebakkan Mesir ke dalam masalah lain yang mungkin lebi h besar. Syariat adalah batas bagi segala-galanya.

Di antara yang dipanggil untuk turut serta di dalam mesyuarat tersebut adalah seorang  ulama’ bernama al-Izz bin Abdis Salam (lebih dikenali sebagai Izzuddin Abdis Salam). Beliau lahir pada tahun 577 H. Ketika mesyuarat tersebut umurnya sudah mencecah 81 tahun. Ibnu Daqiq al-Aid menggelarnya sebagai ‘Sultan kepada semua ulama’. Gelaran ini diberikan kerana sifat beliau yang amat tegas di dalam menasihati para pemerintah dan panglima perang ketika perang Salib sedang rancak terjadi. Beliau bukan sahaja memberikan fatwa di dalam masalah ibadah tetapi juga turut campur tangan di dalam memberikan fatwa di dalam masalah politik dan peperangan.

Beliau pernah dipenjarakan di Damsyik dan di Quds kerana kelantangan fatwanya terhadap pemimpin Islam yang mengkhianati umat Islam dan melakukan persepakatan dengan tentera Salib. Setelah dibebaskan oleh Raja Soleh Najmuddin Ayub, raja Mesir ketika itu, beliau berpindah ke Mesir dan menjadi Mufti Mesir setelah sebelum ini menjadi Mufti di Palestin dan Syam.

Ketika Qutuz mencadangkan agar dilakukan kutipan dari rakyat jelata, Izzuddin Abdis Salam mengeluarkan satu fatwa yang cukup tegas. Beliau berkata:

“Apabila negara Islam diserang, wajib ke atas dunia Islam untuk memerangi musuh. Harus diambil dari rakyat jelata harta mereka untuk membantu peperangan dengan syarat tidak ada harta langsung di dalam Baitul Mal. Setiap kamu (pihak pemerintah) pula hendaklah menjual semua yang kamu miliki dan tinggalkan untuk diri kamu hanya kuda dan senjata. Kamu dan rakyat jelata adalah sama di dalam masalah ini. Ada pun mengambil harta rakyat sedangkan pimpinan tentera memiliki harta dan peralatan mewah, maka ianya adalah tidak harus.”

Fatwa yang cukup tegas ini disambut juga dengan ketegasan oleh Qutuz. Beliau memerintahkan semua pembesar negara dan pimpinan perang agar menyerahkan semua yang mereka miliki kepada negara. Hasil yang menakjubkan; Mesir adalah negara yang kaya. Tetapi kekayaan tersebut telah disalahgunakan oleh sebahagian pimpinan pada masa itu. Penyerahan harta dari pembesar negara telah disambut oleh rakyat jelata. Mereka mula menyumbangkan harta masing-masing untuk memenuhi tuntutan belanjawan perang. Semua turut serta di dalam memberikan sumbangan. Fatwa Izzudin bin Abdis Salam benar-benar dapat menyelesaikan masalah tersebut dalam kadar yang segera.

Kejutan Dari Qutuz; Memerangi Tartar Bukan Bertahan di Mesir

Mesir sudah bersedia untuk menghadapi Tartar. Segala sunnah dan asbab telah diambil oleh Qutuz. Qutuz berjaya menaikkan semangat rakyat Mesir. Qutuz berjaya memadamkan perselisihan di antara pembesar Islam. Qutuz berjaya mendamaikan antara Mamalik Bahriah dan Mamalik Muizziah. Qutuz berjaya menyatukan antara Mesir dan Syam, dua wilayah Islam yang kuat. Qutuz berjaya memperkecilkan Tartar pada pandangan umat Islam. Qutuz berjaya membersihkan jiwa pembesar dan rakyat. Qutuz berjaya membersihkan wang-wang haram dan melancarkan jihad dengan menggunakan wang yang halal.

Dengan kekuatan tersebut Qutuz memilih untuk melakukan tindakan yang cukup berisiko. Beliau telah mengisytiharkan pandangannya di dalam mesyuarat dengan pimpinan tentera untuk mereka keluar menyerang Tartar di bumi Palestin dan mengubahnya dari rancangan asal iaitu menunggu serangan Tartar di Mesir. Pandangan ini amat mengejutkan pimpinan tentera sehinggakan sebahagian dari mereka bangun terkejut setelah mendengar pandangan tersebut. Berlakulah perbincangan dan Qutuz menerangkan kepada mereka rahsia pilihannya itu.

Qutuz menegaskan beberapa noktah yang kemungkinan tidak disedari oleh sebahagian pimpinan tentera akibat terlalu lama berada dalam krisis politik.

a. Keselamatan Mesir bukan terletak di Kaherah tetapi sebaliknya bermula dari sempadan Mesir di sebelah timur. Dengan itu usaha untuk menyelamatkan sempadan Mesir - Palestin mesti dilakukan dari peringkat awal dengan cara menyerang Tartar di Palestin.

b. Berperang di luar Mesir memberikan Mesir kelebihan; iaitu mereka masih lagi ada peluang kembali ke Mesir untuk menyusun semula strategi. Tetapi jika mereka kalah di dalam bumi Mesir, mereka tidak mempunyai peluang tersebut. Sebaliknya Tartar dengan mudah dapat terus menerobos ke Kaherah, ibu negara Mesir.

c. Tentera Islam mesti melakukan kejutan ke atas musuh dengan cara mereka yang menentukan tempat dan masa untuk berperang. Dengan itu mereka berada dalam keadaan cukup bersedia untuk berperang dalam keadaan musuh tidak bersedia sepenuhnya.

d. Mesir bertanggungjawab bukan sahaja ke atas keselamatan Mesir tetapi juga ke atas keselamatan bumi-bumi Islam yang lain. Jihad mempertahankan negara Islam yang dijajah adalah fardhu ke atas negara jiran jika negara yang dijajah itu tidak mampu mempertahankan dirinya.

e. Umat Islam mempunyai kewajipan untuk menyerang dan membuka negara Tartar lalu menawarkan kepada mereka samada Islam atau jizyah. Apatah lagi jika sekiranya tentera Tartar berada di bumi Islam, kewajipan untuk membuka yang dijajah oleh Tartar tersebut lebih wajib lagi dari menyerang negara Tartar sendiri.

Setelah perbincangan yang panjang, akhirnya keputusan diambil bersama. Tentera Islam akan bergerak menuju ke bumi Palestin dan menyerang Tartar di situ.

Perjanjian Damai Islam - Salib di Akka

Untuk sampai ke tempat yang sesuai dijadikan medan perang di Palestin, tentera Islam terpaksa melalui bandar Akka. Bandar Akka pada ketika itu masih lagi di bawah jajahan tentera Salib sejak tahun 492 H. Mereka telah berada di Akka selama 166 tahun. Terdapat generasi tentera Salib di bandar tersebut.

Tentera Salib berada dalam keadaan yang cukup lemah di Akka. Kelemahan ini hasil dari keletihan peperangan yang mereka terpaksa hadapi dari tentera Salehudin Ayyubi sebelum ini. Pembebasan Quds terjadi pada tahun 643 H. Peperangan Mansurah terjadi pada tahun 648 H. Selepas peperangan tersebut, ramai tentera Salib yang dijadikan tawanan termasuk King Louis IX, Raja Perancis.

Walau pun begitu, untuk membebaskan Akka dari tentera Salib tidaklah semudah yang disangkakan. Benteng terkuat tentera Salib adalah di Akka. Banyak cubaan termasuk cubaan oleh Salehudin al-Ayyubi untuk membebaskan Akka menemui kegagalan sebelum ini. Ini termasuk kemungkinan akan terjadi sekali lagi persepakatan di antara tentera Tartar dan tentera Salib yang akan menguatkan kembali Akka.

Langkah yang diambil oleh Qutuz adalah melakukan perjanjian damai sementara dengan pemerintah Salib di Akka. Perjanjian damai ini akan berakhir apabila peperangan menentang Tartar selesai. Langkah ini diambil oleh Qutuz di atas beberapa pertimbangan:

a. Memerangi tentera Salib dan tentera Tartar serentak akan menghilangkan tumpuan tentera Islam dan melemahkan mereka.

b. Tartar adalah masalah utama ketika itu

Qutuz menghantar utusannya untuk menawarkan perjanjian damai. Beberapa syarat diberikan oleh Qutuz kepada tentera Salib yang menunjukkan bahawa Islam sebenarnya berada di posisi kuat ketika melakukan perjanjian dan bukan di posisi lemah. Ia tidak boleh disamakan dengan perjanjian yang terjadi di antara sebahagian pihak yang mewakili Palestin sekarang dengan Yahudi penjajah.

Wakil Qutuz menawarkan kepada penduduk Akka keamanan. Mereka juga menawarkan akan menjual kuda-kuda tentera Tartar dengan harga yang murah kepada penduduk Akka jika mereka berjaya menjatuhkan Tartar. Tawaran ini amat menarik bagi penduduk Akka yang sememangnya kekurangan kuda. Kuda-kuda Tartar terkenal di zaman itu sebagai kuda yang kuat.

Tetapi di masa yang sama, wakil Qutuz mengenakan syarat bahawa Akka perlu memberikan bantuan makanan dan apa-apa yang diperlukan oleh tentera Islam sepanjang mereka berada di Palestin. Wakil Qutuz juga memberikan amaran keras kepada tentera Salib di Akka bahawa jika terjadi sebarang pengkhianatan di pihak tentera Salib, tentera Islam akan meninggalkan peperangan melawan Tartar dan menumpukan sepenuh tenaga mereka kepada tentera Salib sehingga Akka berjaya dibebaskan.

Di pihak tentera Salib, mereka sebenarnya tidak mempunyai pilihan yang lebih baik dari menerima tawaran tersebut. Menolak tawaran perjanjian damai akan menaikkan kemarahan tentera Islam dan kemungkinan akan membawa kepada kejatuhan Akka. Dengan itu Akka dengan segera menerima perjanjian damai sementara itu.

Laluan Qutuz dan tentera Islam ke Palestin untuk berhadapan dengan Tartar kini terbuka.

Pembersihan Saff Muslimin

Kini peperangan benar-benar berada di ambang mata. Ia benar-benar akan terjadi. Kejutan terjadi kepada sebahagian tentera yang pada awalnya menyangka bahawa usaha Qutuz tersebut hanyalah kempen menaikkan semangat. Ketakutan menyelubungi mereka kerana Tartar adalah kekuatan gila yang tidak pernah dikalahkan. Tentera Salib tidak segila itu. Bahkan pada zaman itu meniti dari mulut ke mulut satu mitos yang diterima oleh semua orang pada masa itu ‘jika kamu mendengar Tartar dikalahkan, jangan percaya’.

Mereka lari meninggalkan tentera Islam. Sebahagiannya lari ke bumi Hijaz. Ada yang lari ke Yaman. Ada juga yang lari jauh sehingga ke Morocco. Hasil dari itu tentera Islam benar-benar bersih dari jiwa-jiwa yang kotor. Yang turut berperang adalah mereka yang benar-benar jelas matlamatnya, kuat dan berani menanggung segala risiko. Mereka bersedia untuk syahid di jalan Allah.

Soff muslimin berada di kemuncak persiapan. Segala-galanya telah disiapkan oleh Qutuz, Raja yang menyerahkan kehidupannya untuk agama Allah. Usaha yang bermula dari Zulkaedah 657 H sehingga ke Sya’ban 658 H itu (tidak sampai 10 bulan) telah benar-benar membuahkan hasilnya.

Kini tentera Islam sudah benar-benar bersedia untuk menghadapi Tartar.

Sya’ban 658 H: Ke Bumi Palestin Untuk Menumbangkan Tartar

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Pergerakan tentera Islam bermula pada bulan Sya’ban 658 H. Ia bersamaan bulan Julai 1260 M. Bulan Julai adalah musim panas. Merentasi padang pasir di dalam musim panas bukanlah suatu yang mudah. Ditambah pula mereka akan menghampiri bulan Ramadhan. Tetapi Qutuz tidak menangguhkan langsung operasi tersebut.

Tentera Islam dilatih di Kaherah, Asyut, Iskandariah dan Dimyat. Daripada kem-kem latihan tersebut mereka berkumpul di Solehiah yang terletak di Syarqiah, Mesir sekarang ini. Dari situ mereka bergerak ke sebelah timur dan kemudian naik ke utara menuju ke Arisyh. Itulah bandar pertama mereka berteduh setelah merentasi padang pasir dari Solehiah. Dari Arisyh mereka menuju ke Gaza yang berada di bawah penguasaan Tartar.

Qutuz telah membagikan tenteranya kepada dua kumpulan. Kumpulan pertama agak kecil jika dibandingkan dengan kumpulan kedua. Kumpulan pertama ini diketuai oleh panglima Islam yang hebat, Ruknuddin Baibras. Kumpulan ini berjalan terpisah agak jauh dari kumpulan kedua. Kumpulan pertama ini berjalan menzahirkan dirinya manakala kumpulan kedua berjalan dengan perlahan dan menyembunyikan diri. Ini adalah antara taktik perang yang dilakukan oleh Qutuz untuk mengelabui mata musuh agar musuh silap di dalam menghitung kekuatan tentera Islam.

Kemenangan di Gaza

Pada 26 Julai 1260 M, Baibras sudah berjaya melepasi sempadan Mesir - Palestin. Dia berjaya melepasi Rafah, Khan Yunus dan Dir Balah. Kini dia berada terlalu hampir dengan bandar Gaza.

Perisikan Tartar berjaya mengesan kemaraan tentera Baibras. Mereka menyangka bahawa pasukan itu adalah keseluruhan tentera Islam tanpa mengetahui tentang kewujudan pasukan kedua tentera Islam yang berada jauh dari Gaza. Berita tersebut sampai kepada tentera Tartar. Ketika itu tentera utama Tartar di bawah pimpinan Katabgha masih lagi jauh dari Gaza. Mereka berada di bumi Lubnan, 300 kilometer dari Gaza. Dengan itu mereka menghantar satu pasukan yang tidak begitu besar untuk menghadapi tentera Islam.

Berlakulah pertembungan di antara dua pasukan tersebut. Kali pertama setelah puluhan tahun, tentera Islam menang di dalam pertembungan melawan Tartar. Terbunuh di dalam peperangan tersebut sebahagian tentera Tartar. Tentera yang terselamat melarikan diri menyampaikan berita tersebut kepada Katabgha.

Marah bercampur terkejut. Itulah reaksi Katabgha dan tentera Tartar ketika mendengar berita kekalahan mereka. Sebelum ini mereka sudah terbiasa membunuh orang Islam tanpa mendapat tentangan sengit. Mereka juga sudah terbiasa dengan beberapa Raja Islam yang menghinakan diri memohon perdamaian dari mereka. Di luar jangkaan mereka, masih ada lagi tentera Islam yang berani melawan mereka dan mampu mengalahkan mereka. Ini adalah pengalaman baru bagi Tartar.

Di pihak tentera Islam, kemenangan itu menaikkan semangat mereka untuk terus berjihad. Mereka tidak lagi menoleh ke belakang. Sebaliknya mereka akan terus ke hadapan sehingga ke kehancuran Tartar.

Pemilihan Lokasi Peperangan: Ain Jalut

Tentera Islam terus bergerak dari Gaza melepasi Asqalan dan Yafa. Dari situ mereka singgah sebentar di Akka dan berjumpa dengan pimpinan tentera Salib di Akka untuk memastikan perjanjian masih lagi dipatuhi oleh mereka.

Seterusnya Qutuz dan tentera Islam bergerak meninggalkan Akka menuju ke Ain Jalut. Di manakah Ain Jalut?

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Ain Jalut terletak tidak jauh dari perkhemahan Janin sekarang ini. Ia terletak di antara bandar Bisan dan Nablus. Ia terletak 65 kilometer dari Hittin, medan peperangan Hittin yang terjadi pada tahun 583 H. Ia terletak 6o kilometer dari Yarmuk, medan peperangan Yarmuk yang terjadi enam kurun sebelumnya. Kedudukannya banyak mengembalikan memori tentera Islam kepada kemenangan tentera Islam sebelum itu.

Ia dipilih kerana ia adalah kawasan lapang yang luas dan dikelilingi oleh bukit kecuali di bahagian utaranya. Bukit-bukit tersebut dipenuhi pokok-pokok yang memudahkan tentera Islam untuk bersembunyi. Satu pasukan kecil di bawah pimpinan Baibras diletakkan di bahagian utara sementara tentera yang lain bersembunyi di sebalik pokok.

Semua berada dalam keadaan bersedia menanti kedatangan Katabgha dan tentera Tartar.

24 Ramadhan 658 H

Ketika Qutuz dan tentera Islam sudah pun berada di bumi Ain Jalut, datang sejumlah sukarelawan dari Palestin. Sebelum ini mereka menyembunyikan diri dari medan peperangan. Kesungguhan Qutuz dan qudwah yang ditunjukkan oleh beliau telah menghilangkan ketakutan mereka.

Di samping itu, medan Ain Jalut juga mula dipenuhi dengan petani-petani, kanak-kanak dan wanita. Sebahagiannya ada yang telah tua dan uzur. Kesemuanya keluar untuk memberikan bantuan dalam bentuk yang mereka mampu. Qutuz benar-benar berjaya menggerakkan umat Islam kembali ke medan jihad.

Di hari yang sama, datang seorang utusan kepada tentera Islam dan memohon untuk bertemu dengan Qutuz. Dia memperkenalkan dirinya sebagai wakil Sorimuddin Aibak, seorang muslim yang dijadikan tawanan Tartar dan dipaksa berkhidmat untuk tentera Tartar. Wakil tersebut berkata bahawa dia membawa beberapa pesanan dari Sorimuddin Aibak untuk disampaikan kepada Qutuz.

Pesanan tersebut adalah beberapa maklumat penting untuk tentera Islam:

a. Tentera Tartar tidak lagi sekuat sebelum ini. Holago telah membawa sebahagian tentera dan panglima perangnya ke Tibriz, Iran. Kekuatan mereka tidak lagi sekuat ketika mereka menakluk Syam.

b. Bahagian kanan tentera Tartar lebih kuat dari bahagian kiri mereka. Dengan itu tentera Islam hendaklah menguatkan bahagian kiri mereka untuk menghadapi bahagian kanan tersebut.

c. Asyraf al-Ayubi, Raja Hims yang sekarang ini bersama tentera Tartar ingin kembali ke pangkuan tentera Islam. Mereka akan melakukan tipu helah agar tentera Tartar yang bersama mereka dapat dikalahkan.

Maklumat ini diterima oleh Qutuz dengan penuh hati-hati, bimbang jika sekiranya ia adalah sebahagian dari taktik dan tipu daya Tartar.

Semua ini terjadi pada siang 24 Ramadhan 658 H di Ain Jalut.

Pada malamnya Qutuz dan tentera Islam melakukan tahajud dan memohon dari Allah demi kemenangan tentera Islam dalam pertempuran esok hari. Malam itu adalah malam 25 Ramadhan dan kemungkinan ia adalah malam Lailatul Qadar. Mereka menghabiskan malam mereka dengan tahajud dan doa serta menyerahkan diri kepada Allah. Moga-moga Allah menerima mereka sebagai hambaNya dan memberikan kemuliaan kemenangan atau syahid di medan pertempuran esok hari.

Moga-moga esok adalah hari di mana mereka boleh menebus semula kematian jutaan umat Islam di tangan Tartar.

25 Ramadhan 658 H

Fajar menyinsing tiba. Hari yang dinantikan oleh tentera Islam dan muslimin yang bersama dengan mereka sudah menjelma. Hari itu adalah hari Jumaat 25 Ramadhan 658 H.

Tentera Tartar di bawah pimpinan Katabgha tiba dari arah utara. Tentera Islam bersembunyi di sebalik pokok-pokok. Pasukan kecil di bawah Baibras yang pada asalnya berjaga di sebelah utara dan menzahirkan diri juga menyembunyikan diri mereka ketika tentera Tartar tiba.

Qutuz memberikan arahan agar tentera Islam keluar menzahirkan diri secara berperingkat, satu katibah demi satu katibah.

Ketika katibah pertama turun dari bukit dan menghampiri tentera Tartar, Katabgha dan tentera Tartar terkejut ketakutan. Katibah ini turun dengan memakai pakaian berbelang putih dan merah. Keseluruhan peralatan senjata mereka dihias cantik. Mereka turun dalam keadaan tersusun. Pergerakan mereka sama dan seimbang.

Katabgha bertanya kepada Sorimuddin Aibak: “Pasukan apakah ini?” Sorimuddin menjawab: “Inilah katibah Sanqar ar-Rumi.”

Kemudian turun pula katibah kedua. Katibah ini memakai pakaian berwarna kuning dan membawa senjata yang berhias indah. Mereka juga turun dalam keadaan tersusun, pergerakan yang sama dan seimbang.

Katabgha bertanya kepada Sorimuddin Aibak: “Pasukan apakah ini?” Sorimuddin menjawab: “Inilah katibah Balban ar-Rasyidi.”

Kemudian turun pula katibah seterusnya dengan memakai pakaian berwarna lain. Setiap kali katibah baru turun, Katabgha akan bertanya kepada Sorimuddin: “Pasukan apakah ini?” Sorimuddin yang tidak mengetahui keseluruhan nama-nama katibah Mamalik mula mereka-reka nama tertentu untuk menambahkan ketakutan Katabgha.

Tentera Mamalik terpecah kepada banyak katibah. Setiap katibah akan memakai warna tertentu yang membezakannya dengan katibah lain. Kuda mereka akan dihias dengan warna yang sama. Begitu dengan senjata, khemah dan bahkan rumah-rumah mereka di Mesir. Semuanya akan diwarnakan dengan warna katibah masing-masing.

Semua katibah ini adalah sebahagian tentera Islam yang dipimpin oleh Baibras. Baki tentera yang masih lagi ramai menyembunyikan diri bersama Qutuz.

Gendang mula dimainkan oleh pasukan gendang tentera Islam. Sudah menjadi kebiasaan tentera Mamalik, mereka akan meletakkan satu pasukan gendang di medan perang. Mereka memainkan rentak yang akan memberikan isyarat tertentu kepada tentera Mamalik.Isyarat tersebut hanya mampu difahami oleh tentera Mamalik. Setiap pergerakan tentera akan ditentukan oleh gendang tersebut.

Pasukan Baibras sudah berada hampir dengan tentera Katabgha. Peperangan sudah semakin hampir.

Serangan Pertama: Bermula Peperangan

Bermulalah pertempuran. Katabgha yang menyangka bahawa pasukan Baibras yang kecil itu adalah keseluruhan tentera Islam telah mengarahkan keseluruhan tenteranya untuk masuk ke medan pertempuran. Mereka menyerbu masuk dengan jerit pekik yang kuat.

Baibras dan tenteranya berdiri tenang di tempat masing-masing menantikan kemaraan tentera Tartar yang berjumlah berlipat ganda dari bilangan pasukan mereka. Apabila tentera Tartar sudah hampir kepada mereka, Baibras memberikan isyarat kepada tenteranya untuk merempuh ke depan.

Pedang bertemu pedang, gendang dipalu bertambah kuat berselang seli memberikan arahan dengan takbir dari petani-petani yang berada di atas bukit. Darah mula mengalir. Satu demi satu nyawa melayang. Walau pun begitu, Baibras dengan bilangan tentera yang sedikit mampu bertahan sehingga ke saat itu. Ketakutan mula meresap masuk ke dalam diri tentera Tartar. Belum pernah mereka menghadapi kekuatan sedemikian.

Pemilihan Qutuz sememangnya tepat. Panglima-panglima perang yang dipilih untuk bertembung di peringkat awal dengan Tartar dan menghabiskan tenaga Tartar adalah panglima perang Mamalik terbaik. Mereka adalah panglima yang terlibat sekali di dalam mengukir kemenangan di dalam peperangan Mansurah menentang tentera Salib pimpinan Louis IX. Mereka memiliki kemahiran perang yang tinggi.

Qutuz dan baki tentera masih lagi menanti di sebalik tempat persembunyian mereka menyaksikan peperangan tersebut dan menunggu waktu sesuai untuk masuk ke serangan kedua.

Serangan Kedua: Mengepung Tentera Tartar

Masanya sudah tiba untuk Qutuz memberikan arahan baru. Arahan seterusnya adalah agar Baibras dan tenteranya berundur secara seimbang dan berpura-pura lemah. Taktik ini adalah taktik yang sama digunakan oleh tentera Islam di dalam peperangan Nahawand ketika tentera Islam di zaman Saidina Umar r.a. membuka Parsi. Taktik ini digunakan untuk menarik tentera Tartar yang sudah keletihan masuk ke tengah-tengah medan peperangan dan mengepung mereka di situ. Sebagaimana yang kita ketahui medan Ain Jalut berbukit di seluruh kawasannya kecuali di bahagian utara. Kepungan itu agak mudah untuk dilakukan jika sekiranya Baibras berjaya menarik tentera Tartar ke tengah medan.

Ia bukanlah taktik yang mudah. Ia memerlukan satu perkiraan yang tepat. Terlalu cepat akan menyebabkan musuh menyedari taktik tersebut. Terlalu lambat akan menyebabkan kematian tentera Islam.

Qutuz memberikan arahan kepada pasukan gendang untuk memberikan arahan baru ini. Baibras memahami rentak gendang tersebut. Tanpa berlengah dia dan tenteranya mula berundur ke belakang sedkiit demi sedikit dengan penuh hati-hati. Mereka berpura-pura menzahirkan keletihan dan kelemahan mereka.

Katabgha tertipu. Dia mengarahkan seluruh tenteranya untuk masuk ke dalam medan perang tanpa menyedari taktik tersebut. Ini adalah satu yang cukup pelik terjadi kepada beliau. Katabgha adalah panglima perang Tartar yang mahir. Menjadi panglima perang sejak zaman Genghis Khan. Ketika peperangan Ain Jalut, ia berusia lebih 60 tahun atau mungkin lebih 70 tahun. Satu usia yang memberikan pengalaman yang tidak sedikit berkenaan taktik-taktik perang di zaman itu. Tetapi Allah mengatur segala-galanya.

Taktik ini berjaya. Tentera Tartar telah berada dalam kepungan. Pada ketika baki tentera Islam muncul, Katabgha menyedari kesilapannya. Di sini tidak ada jalan lain bagi mereka kecuali terus berperang mati-matian. Mereka nampak kematian semakin menghampiri mereka.

Serangan Ketiga: Kekuatan Bahagian Kanan Tartar

Katabgha memberikan arahan agar semua tenteranya berjuang mati-matian. Mereka seolah-olah mengamuk dan mengasak tentera Islam. Di sini terbukti kebenaran apa yang dikatakan oleh wakil Sorimuddin Aibak berkenaan kekuatan bahagian kanan tentera Tartar. Bahagian kiri tentera Islam telah diasak dengan dahsyat oleh mereka. Gugur di kalangan tentera Islam seorang demi seorang sebagai syahid.

Qutuz yang melihat dari atas bukit merasai kesukaran yang dihadapi oleh tentera Islam. Langkah yang diambil oleh beliau amat menakjubkan. Beliau mencampakkan topi besinya lalu melaungkan ‘wa Islaaamah’. Laungan ini diucapkan oleh beliau sambil beliau turun ke medan perang dengan menunggang kudanya. Langkah ini diambil oleh Qutuz untuk menaikkan semangat tentera Islam.

Tentera Tartar terperanjat dengan kehadiran Qutuz di tengah-tengah medan perang. Qutuz memerangi mereka dengan penuh semangat seolah-olah beliau tidak langsung sayangkan nyawanya. Beberapa libasan pedang dan tombak hampir menemui beliau. Kudanya berjaya ditikam mati oleh tentera Tartar menyebabkan beliau terjatuh. Pun begitu beliau meneruskan jihadnya dengan berjalan kaki sehinggalah beliau berjaya mendapatkan kuda bantuan.

Seorang pembesar istana menjerit dan mencelanya kerana lambat menaiki kuda. Beliau bimbangkan Qutuz terbunuh lalu dengan itu akan kalahlah tentera Islam. Tetapi Qutuz menjawab: “Ada pun diriku, sesungguhnya ia sedang menuju surga. Ada pun Islam, ia mempunyai Tuhan yang tidak akan membiarkannya.”

Tentera Islam bertambah semangat dengan turunnya Qutuz ke medan perang.

Kematian Katabgha

Dibunuh oleh Jamaludin Aqusy as-Syams. Beliau adalah salah seorang panglima perang Mamalik. Pernah berada di bawah Raja Nasir al-Ayyubi. Kemudian beliau meninggalkannya setelah melihat pengkhianatan yang dilakukan oleh Raja Nasir al-Ayyubi.

Beliau merempuh tentera Tartar sehingga berjaya masuk ke tengah-tengah tentera tersebut. Di situ beliau melihat Katabgha. Jamaluddin tidak menunggu lama. Beliau mengumpulkan seluruh tenaganya dan melibas pedangnya ke arah leher Katabgha. Kepala Katabgha berpisah dari badan dan tercampak ke tengah medan perang di hadapan tentera Tartar.

Ketakutan makin meningkat melihat kematian Katabgha di hadapan mata mereka. Tentera Tartar mula melarikan diri melalui bahagian utara Ain Jalut. Tentera Islam mengejar mereka.

Pertembungan Akhir di Bisan dan Berakhirnya Kekuatan Tartar

Tentera Tartar bisa memecahkan kepungan tentera Islam. Mereka melarikan diri sejauh 20 kilometer dan berhenti di Bisan. Tentera Islam terus mengejar mereka.

Berlaku pertembungan yang lebih sengit. Kali ini tentera Tartar benar-benar menggila untuk memastikan mereka terus hidup. Qutuz berada di tengah-tengah medan peperangan memberikan semangat kepada tentera Islam. Beliau melaungkan: “Wa Islaamah. Wa Islaamah. Wa Islaamah. Ya Allah bantulah hambamu, Qutuz untuk menghancurkan Tartar.”

Akhirnya kemenangan berpihak kepada tentera Islam. Mereka berjaya menamatkan mitos bahwa Tartar tidak akan dikalahkan bila-bila.

Medan peperangan kembali sunyi. Tidak ada lagi bunyi gendang. Tidak ada lagi jeritan Tartar. Tidak ada lagi takbir para petani. Tidak ada lagi bunyi libasan pedang. Mayat-mayat tentera Tartar mati bergelimpangan dalam bentuk yang mengerikan. Qutuz berjalan di tengah medan perang yang sudah sunyi melihat hasil peperangan selama sehari di bulan Ramadhan.

Kesudahan Yang Baik Buat Raja Yang Hebat

Qutuz sujud ke bumi mensyukuri kemenangan tersebut. Beliau dan tenteranya berjaya membunuh kesemua tentera Tartar. Ya! Kesemuanya. Tidak ada seorang pun dari tentera Tartar yang berjaya melepaskan diri mereka hidup-hidup. Semuanya mati dibunuh oleh tentera Islam di dalam peperangan yang cukup hebat ini.

Maruah umat Islam berjaya dikembalikan. Kematian jutaan umat Islam berjaya dibalas oleh Qutuz. Sememangnya beliau seorang pemimpin hebat yang berjaya mencipta satu sejarah untuk dibanggakan oleh umat Islam sepanjang zaman. 10 bulan sudah cukup bagi Qutuz untuk menjatuhkan Tartar yang bermaharajalela di bumi Islam selama lebih 40 tahun.

Semua itu terjadi pada 25 Ramadhan.

Moga pahlawan seperti Qutuz akan ada penggantinya. Aamin.

"Bagaimana Mengubah Modal Rp 350.000,- Menjadi Penghasilan Rutin Rp 75 Juta/Bulan dari Bisnis Sederhana di Internet?" info lengkap Klik disini!

E-book Download "Tehnik Arab-Sudan Untuk Memperbesar Penis + Menambah Ereksi KERAS & KUAT + ML Tahan Lama" klik disini untuk download atau klik webnya disini!

"Anda Dapat Bertambah Tinggi 2 cm s/d 10 cm Dalam Waktu 4 Bulan" Caranya? download ebooknya disini atau Klik disini!

Download Ebook "SOLUSI SOAL CINTA: BUATLAH WANITA JATUH CINTA KEPADA ANDA, Cara Memikat Wanita Idaman" klik disini untuk download atau klik webnya disini