Klaim kepemilikan atas tanah Palestina oleh bangsa Yahudi berdasarkan berita
kitab suci Taurat dan Talmud adalah merupakan klaim sepihak dengan tidak melihat
garis keturunan mereka. Bangsa Yahudi yang berdatangan dari negara-negara di
Eropa Timur, Jerman, Belanda, Spanyol, Portugal, Timur Tengah dan Asia Tengah ke
tanah Palestina setelah Perang Dunia II secara genealogi
bukanlah keturunan Abraham atau Nabi Ibrahim As. yang mempunyai anak bernama
Ishak As. dan kemudian mempunyai anak Yaqub As (Israil) yang menurunkan bangsa
bani Israil (anak-anak Israil/Yaqub).
Hal tersebut dibuktikan oleh sebuah tim
arkeologi Rusia yang pada tanggal 30 Juli 2005 melakukan penggalian arkeologi
dari abad ke-11 dan 12 berupa bangunan pondok yang dibuat dari batu bata dibakar
di Itil, kota Silk Road, yang dulunya merupakan ibu kota Khazar, dekat Astrakha
sekitar 800 mil (1280 km) sebelah selatan Moscow, Khazar didirikan sebagai
negara feodal pertama di Eropa timur.
Menurut e-mail Kevin
Brook, seorang pengarang Amerika dengan buku berjudul “Yahudi dan Khazaria”
yang melaporkan bahwa ia sudah mengikuti penggalian di kota Itil menggali selama
bertahun-tahun, namun demikian penggalian itu tidak ada menemukan sedikitpun
artefak-artefak Yahudi, "Sekarang aku yakin seperti juga seluruh tim
arkeologis lainnya bahwa mereka sudah benar-benar menemukan kota yang sudah
sangat lama hilang."
Dmitry Vasilyev, seorang pakar arkeologi Rusia yang juga professor dari
Astrakhan State University, mengatakan bahwa dia sudah menemukan ibukota kerajaan
Khazar yang hilang, sebuah negara kuat di abad pertengahan yang kekuasaannya
meliputi pantai-pantai utara dari Laut Hitam hingga Asia Tengah dan para
pemimpinnya mengadopsi Judaisme (agama Yahudi) sebagai agama negara. Bangsa
Khazar adalah bangsa yang tangguh yang mengadopsi agama Judaisme (agama Yahudi)
sebagai agama resmi negara lebih dari 1.000 tahun yang lalu, hanya untuk
menghilangkan jejak kecil yang ditinggalkan oleh kebudayaannya.
Khazar
adalah anak suku dari bangsa Turkic yang menjelajahi padang rumput dari China
Utara ke Laut Hitam. Di antara abad ke-7 dan 10 mereka menaklukkan wilayah
luas yang meliputi selatan Rusia dan Ukraine sekarang, termasuk pegunungan
Caucasus hingga Asia Tengah sampai Laut Aral.
Dinasti dan kebangsawanan para Khazar itu yang kemudian dikonversi menjadi
Judaisme di abad ke-8 atau 9. Vasilyev berkata jumlah yang terbatas dari artifak
keagamaan Yahudi seperti mezuzas dan Bintang Daud yang ditemukan pada
lokasi-lokasi Khazar yang lain membuktikan bahwa orang-orang Khazars pada
umumnya atau rakyat jelatanya lebih menyukai kepercayaan-kepercayaan tradisional
seperti shamanism, atau agama-agama yang baru diperkenalkan termasuk Islam.
Yevgeny Satanovsky, direktur Middle Eastern Institute (Institut Timur Tengah)
di Moscow percaya bahwa kalangan elite dari kerajaan Khazar memilih Judaisme di
luar kerangka politis - untuk tetap tidak terikat dengan negara Muslim dan
Kristen yang menjadi tetangganya. Mereka memeluk Judaisme karena mereka ingin
tetap netral, seperti Switzerland sekarang ini.
Secara khusus orang-orang Khazar menentang perpindahan bangsa Arab ke
pegunungan Caucasus dan berperan sebagai penolong bagi bangsa Eropa atas desakan
Muslim dari timur. Ia membandingkan peran bangsa Khazar di Eropa timur seperti
para bangsawan Prancis yang mengalahkan tentara Arab di peperangan
Tours di Prancis tahun 732.
Khazars berhasil membendung serbuan Arab, tapi kemudian dalam perluasan
negara, Rusia berhasil menaklukkan kerajaan Khazar di akhir abad ke-10.
Syair-syair kepahlawanan (epik) bangsa Rusia di abad pertengahan menyebutkan
perihal perkelahian para pejuang Rusia dengan para "Raksasa Yahudi."
Dilihat dari segi etnik, Yahudi
Ashkenazi adalah satu jalur keluarga yang dapat ditelusuri sampai kepada Bangsa
Yahudi dari Eropa Tengah dan Timur. Untuk perkiraan kasar selama seribu
tahun, Ashkenazim itu adalah sebuah populasi reproduktif yang diasingkan di
Eropa, meskipun tinggal di banyak negara, dengan sedikit arus migrasi masuk dan
keluar, konversi, atau perkawinan campuran dengan golongan lain, termasuk Yahudi
yang lain. Pakar
genetik manusia sudah mengenali variasi genetik di mana terdapat frekwensi yang
tinggi di antara Yahudi Ashkenazi, tetapi bukan di dalam populasi orang Eropa
pada umumnya.
Suatu studi oleh Mikhael Seldin, seorang pakar genetika dari Sekolah
Kedokteran Davis, Universitas California, menemukan dengan jelas bahwa Yahudi
Ashkenazi merupakan subgrup genetik homogen yang relatif. Yang
menarik, dengan mengabaikan tempat dari asal-muasalnya, Yahudi Ashkenazi dapat
dikelompokkan di dalam kelompok genetik yang sama - dengan mengabaikan
apakah seorang nenek moyang Yahudi Ashkenazi datang dari Polandia, Rusia,
Hungaria, Lituania, atau tempat lain di manapun dengan suatu populasi historis
Yahudi, mereka termasuk ke dalam kelompok etnik yang sama.
Dari perkiraan 88 juta orang Yahudi yang tinggal di Eropa pada awal Perang
Dunia II, mayoritas terdiri dari Yahudi Ashkenazi, sekitar 6 juta – atau lebih
dari dua pertiga – yang secara sistematis dibunuh di dalam Holocaust. Ini
termasuk 3 juta dari 3,3 juta Yahudi di Polandia (91%), 900.000 dari 11 juta
Yahudi di Ukraine (82%) dan 50-90% dari Bangsa Yahudi di negara-negara Slavic
lainnya, Jerman, Prancis, Hungaria, dan negara-negara Baltic. Komunitas Yahudi
Sephardi (berasal dari Spanyol dan Portugal) menderita karena mengalami
pemusnahan yang serupa di beberapa negara, termasuk Yunani, Belanda dan
Yugoslavia. Banyak dari Yahudi Ashkenazi yang menyelamatkan diri dengan
berpindah ke luar negeri seperti Israel (tanah Palestina), Australia, dan
Amerika Serikat setelah peperangan.
Dewasa ini, Yahudi Ashkenazi melembagakan diri sebagai kelompok yang paling
besar di antara Yahudi, tetapi merupakan minoritas kecil dari Yahudi Israel (lihat
Demographics dari Israel). Bagaimanapun, mereka sudah memainkan suatu peran
yang terkemuka di dalam ekonomi, media, dan politik di Israel karena perannya
dalam pendirian negara Israel. Ketegangan-ketegangan kadang-kadang muncul di
antara Yahudi yang tradisional dari Timur Tengah (Sephardim
dan Mizrahim)
dan kelompok Yahudi Ashkenazim dari Eropa yang mendirikan negara Israel.
Kemudian imigran dari kelompok non ashkenazi yang datang belakangan
kadang-kadang mengakui bahwa mereka mengalami diskriminasi di bidang pendidikan,
kesempatan kerja atau penghasilan, perumahan dan di bidang-bidang lainnya.
Jadi para pendiri negara Israel sebagai negara Zionis yang modern bukanlah
Semitic keturunan dari Abraham, Ishak dan Yakub akan tetapi adalah kelompok
etnik dari Eropa bagian Timur yang mengkonversi diri mereka menjadi Judaisme di
Abad Pertengahan. Mereka ini - yang terlibat dalam pembentukan negara Zionis
Israel – ternyata tidak pernah tinggal di Palestina sebelum mereka datang di
tahun 1947, jadi tidak berhak mengakui tanah Palestina sebagai warisan
leluhurnya. Orang Arab Palestina, Yahudi dan orang-orang Kristen yang merupakan
penduduk asli di Palestina telah hidup tenang bersama-sama untuk selama
berabad-abad sebelum akhirnya bangsa Yahudi Ashkenazim dari Eropa mengambil alih
Palestina atas mandat PBB di tahun 1947.
Sumber: Sumber : http://www.usatoday.com/news/world/2008-09-20-33814371_x.htm